Saturday, 19 December 2015

Model Cincin Kawin dan Fungsinya

Model Cincin Kawin dan Fungsinya

Model Cincin Kawin dan Fungsinya merupakan artikel yang membahas model cincin pernikahan dari abad satu masehi hingga sekarang serta fungsi dan tujuan cincin pernikahan.

Cincin kawin atau pernikahan adalah salah satu simbol di dalam pernikahan menurut tradisi kristen barat. Pertukaran cincin kawin di dalam proses pernikahan dilakukan pada saat pengucapan komitmen kedua mempelai untuk menjalani kehidupan bersama.

Meskipun demikian, cincin kawin bukanlah simbol utama sebab yang terpenting adalah pengucapan komitmen antara kedua mempelai tersebut. Pertukaran cincin kawin boleh ditiadakan.

Model Cincin Kawin Abad 1 Hingga 10


Pemberian cincin kawin semula berasal dari pertunangan romawi sejak abad pertama masehi. Upacara pertunangan tersebut berisi pernyataan tentang janji untuk menikah pada masa depan. Pada masa itu keterlibatan tradisi setempat masih kuat di dalam kekristenan yang tengah berkembang.

Salah satu unsur romawi yang termasuk ke dalam ritual pernikahan kristen adalah proses pertukaran cincin kawin. Di dalam suatu garis besar yang dibuat gereja pada abad ke-9, prosesi pemasangan cincin dalam pernikahan telah tercantum di dalamnya.

Model Cincin Kawin Abad 10 hingga 11


Di dalam abad ke-10 dan ke-11 terdapat penambahan di dalam pemasangan cincin kawin, yaitu pemasangan cincin disertai dengan pemberian berkat pada cincin. Mempelai pria memasangkan cincin kawin kepada mempelai wanita seraya berkata:  

“Dia (menyebut nama mempelai wanita) yang mengenaikan cincin kawin ini boleh berada di dalam damai, kehidupan, bertumbuh di dalam kasih, dan dikaruniai umur panjang.”

Dengan demikian seolah-olah cincin kawin memiliki makna dalam pernikahan sebagai konsekrasi roti dan anggur dalam ekaristi.

Gereja-gereja ortodoks timur mempertahankan prosesi pertukaran cincin kawin, seperti pertukaran janji dan cincin diruang depan. Dengan demikian jikalau pada abad ke-10 dan ke-11 cincin menjadi simbol berkat, maka pada gereja-gereja ortodoks timur, cincin kawin menjadi simbol ikatan kedua mempelai melalui janji pernikahan.

Model Cincin Kawin Abad 16 hingga kini


Pada masa reformasi gereja, muncul rumusan lain yang berasal dari Martin Luther, yaitu “Apa yang telah dipersatukan tuhan, tidak boleh diceraikan oleh manusia.” Ibadah pernikahan digereja gereja protestan Indonesia hingga kini sebagian besar memakai rumusan unu atau yang serupa dengan ini.

Walau cincin kawin banyak digunakan dalam liturgi pernikahan, namun bukan berarti semua gereja menyetujui penggunaan cincin kawin dalam pernikahan. Mereka keberatan terhadap proses pertukaran cincin kawin dan juga unsur-unsur lain di dalam ibadah sehingga menghilangkan prosesi tersebut dari ibadah pernikahan.

Akan tetapi, sebagian besar unsur-unsur tersebut pulih kembali pada tahun-tahun berikutnya. Keberatan tersebut wajar mengingat tujuan mereka adalah “memurnikan” gereja inggris pada saat itu dengan cara menyingkirkan segala hal yang berbau romawi.

Pada abad 18, John Wesley juga menghapus ritus penyerahan mempelai dan pemberian cincin kawin. Akan tetapi para penerusnya memulihkan kedua ritus tersebut.

Fungsi Simbolik Cincin Kawin


Simbol berfungsi mengembalikan masa lalu pada masa kini. Dengan demikian, melalui cincin kawin, pasangan suami istri dapat mengingat cinta yang terjalin dan makna pernikahan yang telah mereka jalani.

Cincin pernikahan tidak menjamin cinta dan kesetiaan suami istri. Namun cincin kawin menjadi simbol yang senantiasa mengingatkan dan membahasakan kerinduan mereka untuk selalu memperdalam cinta kepada pasangannya.

Secara populer ada makna-makna lain yang diberikan kepada cincin pernikahan, misalnya sebagai penanda akan status pemakainya selaku suami istri, atau perlambang ikatan pernikahan yang tiada ahirnya seperti cincin yang bulat da tak berujung.


Demikianlah penjelasan mengenai Model Cincin Kawin dan Fungsinya. Semoga menambah wawasan kita semua. (Wikipedia)

No comments:

Post a Comment